FIFA, badan sepak bola yang mengatur internasional, telah melihat sejumlah perubahan kepemimpinan dalam beberapa tahun terakhir, dengan Sepp Blatter digantikan oleh Gianni Infantino sebagai presiden pada tahun 2016. Blatter, yang telah bertanggung jawab atas FIFA sejak 1998, dipaksa untuk mengundurkan diri di tengah skandal korupsi yang mengguncang organisasi ke intinya.
Masa jabatan Blatter sebagai presiden ditandai oleh kontroversi, dengan tuduhan penyuapan, korupsi, dan pemungutan suara yang menodai reputasi FIFA. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini menghadapi kritik yang meluas karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas, dengan banyak menuduh Blatter menggunakan posisinya untuk keuntungan pribadi.
Pada 2015, beberapa pejabat FIFA ditangkap dengan tuduhan korupsi, yang mengarah ke penyelidikan FBI dan akhirnya kejatuhan Blatter. Pada bulan Desember tahun itu, ia dilarang dari sepak bola selama delapan tahun oleh komite etika FIFA, sebuah keputusan yang kemudian dikurangi menjadi enam tahun untuk naik banding.
Pada bulan Februari 2016, Gianni Infantino terpilih sebagai presiden baru FIFA, berjanji untuk membersihkan organisasi dan mengembalikan kredibilitasnya. Infantino, seorang pengacara Swiss-Italia, sebelumnya menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA, badan pemerintahan sepak bola Eropa.
Sejak menjabat, Infantino telah menerapkan sejumlah reformasi yang bertujuan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam FIFA. Dia juga mengawasi perluasan Piala Dunia dari 32 hingga 48 tim, sebuah keputusan yang telah dipenuhi dengan pujian dan kritik.
Gaya kepemimpinan Infantino telah digambarkan sebagai lebih pragmatis dan berdamai daripada Blatter, dengan fokus pada membangun konsensus di antara asosiasi anggota FIFA. Namun, ia juga menghadapi bagian kontroversi sendiri, termasuk tuduhan perilaku tidak etis dan konflik kepentingan.
Terlepas dari tantangan ini, Infantino tetap berkomitmen untuk mereformasi FIFA dan memulihkan reputasinya sebagai organisasi yang dihormati dan transparan. Di bawah kepemimpinannya, FIFA telah mengambil langkah -langkah untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam sepak bola dan mempromosikan keragaman dan inklusivitas dalam olahraga.
Ketika FIFA terus menavigasi kompleksitas tata kelola sepak bola modern, kepemimpinan berubah dari Blatter ke Infantino merupakan titik balik dalam sejarah organisasi. Sementara jalan di depan mungkin penuh dengan tantangan, ada harapan bahwa di bawah pengawasan Infantino, FIFA sekali lagi dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan di dunia sepakbola.
